Kebijakan Ekonomi Berbasis Maritim Perlu Ditingkatkan

Kebijakan Ekonomi Berbasis Maritim Perlu Ditingkatkan

Foto: Antara

BojongeoroToday – Indonesia sebagai negara maritim memiliki lebih dari 140 pelabuhan internasional dari wilayah barat hingga timur. Namun sayangnya potensi ekonomi dari hasil maritim ini belum maksimal.

Terbukti dari bongkar muat kargo yang sepi aktivitas, padahal pelabuhan yang potensial sangat banyak. Apalagi biaya yang dibutuhkan sangat mahal hingga mencapai 30 persen dari harga bahan baku. Selama ini barang yang dikirim melalui jalur transportasi laut tidak banyak dan efisiensinya hanya 10 persen saja.

Diungkapkan oleh Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Prof. Dr. Ir. Danang Parikesit, M,.Sc., di acara Kongres Maritim Indonesia di kampus UGM, Rabu (24/9) kemarin bahwa transportasi laut sangat berpotensi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus meminimalkan angka inflasi karena disparitas harga antar wilayah semakin rendah.

Sayangnya biaya logistik yang tinggi akibat minimnya aktivitas bongkar muat tersebut membuat potensi dalam negeri menjadi anjlok dibandingkan dari luar negeri. Sebagai gambaran, harga jeruk pontianak lebih mahal ketimbang jeruk dari tiongkok.

Danang juga menambahkan bahwa biaya transportasi semakin melangit dengan tambahan 20-25 persen harga akhir dari komoditas pertanian.  Padahal komoditas pertanian yang diangkut kapal kurang dari 2 persen.

Karena biaya yang sangat tinggi inilah, Indonesia tidak menjadi bagian dalam daftar peta perdagangan maritim dunia. Indonesia pun tertinggal dari Malaysia dan Singapura yang sudah memanfaatkan sektor maritim sebagai jalur perdagangan untuk memaksimalkan potensi perekonomian negara.

Di masa depan, Danang berharap, pemerintah baru yang akan dipimpin oleh Joko Widodo akan merealisasikan rencana pembangunan tol laut untuk mendorong kemajuan transportasi laut dan sektor maritim.

Danang berpendapat bahwa penggarapan pembangunan pelabuhan di daerah timur Indonesia  seperti di Sorong, Papua, dan Bitung, Sulawesi Utara sangat potensial untuk menjadi pintu gerbang keluar-masuk kapal angkut dari produk impor mancanegara yang beroperasi di Indonesia.

Setidaknya terdapat 14.000 kapal yang berseliweran di perairan Indonesia. Apabila potensi tersebut dikembangkan, maka jalur lalu lintas di kawasan perairan Indonesia timur akan ramai.

Dampak positif dari hal ini tentunya adalah mendorong proses pengangkutan barang beralih dari jalur darat ke jalur laut, menekan biaya transportasi kapal yang mahal menjadi lebih murah, pergerakan kapal menjadi lebih sering dan terjadwal, serta tak kalah penting adalah mengalahkan dominasi Malaysia dan Singapura dalam sektor perdagangan maritim. (pv)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *