Rupiah Bisa Menguat Jika Impor MigasTurun

Rupiah Bisa Menguat Jika Impor MigasTurun

BojonegoroToday – Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserves/The Fed akan menaikkan suku bunga menyusul memulihnya sektor ekonomi di AS. Akibatnya banyak investor global yang membeli aset dalam dolar AS, karena selain dianggap aman, bunganya pun semakin menarik.

Akibat kebjakan the Fed inilah akhirnya Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya harus menelan pil pahit akibat nilai mata uang anjlok drastis. Indonesia mengalami pelemahan nilai tukar rupiah hingga mencapai angka Rp 12.000 per dolar AS.

Bank Indonesia (BI) dan kalangan lain meminta pemerintah untuk menyiasati hal ini dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi

Dijelaskan oleh Pakar ekonomi Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih pada Minggu (21/9/2014), bahwa rupiah bisa menguat apabila impor dikurangi. Caranya adalah menaikkan harga BBM.

Ia menilai bahwa kebijakan menaikkan BBM ini dinilai bisa membantu agar nilai tukar rupiah kembali naik. Hal itu karena adanya pemborosan BBM subsidi selama ini. Padahal BBM dan minyak Indonesia didapat dengan impor yang tinggi.

Artinya kebijakan The Fed, bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan rupiah anjlok, tetapi impor minyak dan BBM yang tinggi sehingga kebutuhan terhadap dolar pun tinggi.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) impor migas Indonesia pada Juli 2014 sebesar 4,15 miliar dolar AS. Sementara pada bulan sebelumnya hanya 3,39 miliar dolar AS. Khusus minyak termasuk BBM, tercatat impor Indonesia sebesar 1,39 miliar dolar AS pada bulan Juli lalu. Hal ini naik dari bulan sebelumnya yang berkisar 2,03 miliar dolar AS.

BBM impor ini lalu dijual dengan harga rendah di masyarakat karena alokasi subsidi sebesar Rp 246,5 triliun tahun ini. Akibat harga BBM murah, masyarakat pun terlena dan cenderung boros sehingga impor BBM pun ikut naik setiap bulannya. Semakin tinggi impor BBM yang dilakukan maka akan membuat pasokan valas di dalam negeri semakin lemah, demikian pula dengan nilai rupiah.

Lana menilai bahwa jika harga BBM dinaikkan masyarakat akan berupaya untuk lebih BBM bersubsidi. Dengan begitu konsumsi BBM akan menurun,sehingga impor pun menurun.

Di sisi lain kenaikan harga BBM bersubsidi akan memberikan sentimen positif di pasar keuangan. Jika pemerintah nantinya mengalihkan subsidi BBM untuk anggaran lain yang lebih produktif, maka ada kemungkinan jika para investor akan semakin yakin untuk berinvestasi karena pemerintah akan memiliki anggaran lebih untuk membangun infrastruktur yang mempermudah investasi sehingga berdampak pada kemajuan perekonomian.

Pasar di Indonesia harus dibuat lebih menarik lagi agar para investor dalam maupun luar negeri untuk berbondong-bondong menanamkan modal di Indonesia. Hal itu kemudian menjadi tugas BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar menciptakan iklim yang kondusif untuk para investor tersebut. (pv)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *