Siapa Bilang Gaji Pas-pasan Tak Bisa Berinvestasi?

investasiApa yang ada dalam benak Anda ketika mendengar Kota Jakarta? Kebanyakan memiliki pendapat sama āˆ’ kota besar penuh tantangan, keras, sulit mendapatkan asuransi terbaik, biaya hidup tinggi walaupun gaji pas-pasan. Kenyataan ini tidak hanya dirasakan pekerja informal saja lho.

Perantau atau fresh graduate pun sering mengalami kesulitan hidup di kota besar. Menurut survei, rata-rata biaya hidup di Indonesia mencapai Rp 5,58 juta per bulan. Jakartalah yang memperoleh predikat sebagai kota dengan biaya hidup termahal. Rata-rata biaya hidupnya mencapai Rp 7,5 juta per bulannya.

Tentu saja biaya yang harus dikeluarkan per bulannya masih tidak sebanding dengan upah minimum provinsi DKI Jakarta 2015, sebesar Rp 2,7 juta. Bagi seorang profesional, kemungkinan rata-rata gaji pertamanya sekitar Rp 4 juta- Rp 5 juta. Dengan penghasilan pas-pasan, tentu seseorang harus pandai-pandai mengatur keuangan. Jika memungkinkan, idealnya seseorang bisa menyisihkan dana untuk kebutuhan tabungan investasi dan proteksi.

Bagaimana mengelola keuangan dengan gaji pas-pasan?

Buat perencanaan keuangan

Setiap bulannya, Anda harus membuat catatan pemasukan dan pengeluaran yang Anda lakukan. Hal ini untuk mengontrol arus keuangan Anda agar cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Tentukan apa yang menjadi prioritas Anda. Catat dalam diari Anda secara terperinci beserta perkiraan budget yang dikeluarkan. Bagi Anda yang sudah berkeluarga, tentu prioritasnya juga akan berbeda. Pisahkan juga biaya untuk sekolah anak. Jika memungkinkan, Anda juga harus mempersiapkan dana pensiun. Tentunya jika ada kelebihan dana dan setelah kebutuhan pokok Anda terpenuhi.

Hemat pangkal kaya

Pepatah ini memang ada benarnya, dengan berhemat ditambah dengan usaha yang konsisten memang bisa awal perbaikan dalam hal keuangan. Kunci sukses perencanaan keuangan adalah dengan pendapatan kecil yang rutin.
Agar Anda bisa melakukan penghematan dengan efektif, sebelumnya Anda harus mencermati pola keuangan terlebih dahulu. Dahulukan kebutuhan primer sebelum Anda tergiur dengan kebutuhan sekunder.

Setelah berhemat, Anda harus konsisten menyisihkan uang sesuai dengan anggaran. Idealnya, Anda menyisihkan dana untuk tabungan sebesar 10 persen-20 persen dari pendapatan per bulannya.

Jika gaji Anda semakin besar, maka alokasi untuk tabungan investasi juga semakin besar, Yang terpenting, jangan sampai berhutang. Pastikan setiap bulannya, Anda juga menyiapkan dana darurat dan proteksi kesehatan. Pilihlah asuransi kesehatan sesuai budget Anda.

Memilih instrumen tabungan investasi

Dalam memilih instrumen investasi, Anda harus mempertimbangkan target jangka waktu pencapaian rencana keuangan. Setiap instrumen investasi memiliki karakter dan risiko yang berbeda.

Misalkan, Anda memilih jangka waktu lima tahun, maka Anda bisa menanamkan dana di reksadana campuran. Jika Anda memilih jangka waktu panjang, Anda bisa memilih reksadana saham.

Berbeda lagi jika Anda ingin imbal hasil besar, Anda bisa memilih reksadana pendapatan tetap. Nah, jika pendapatan Anda nyatanya bertambah dan sisa dana bertambah, Anda bisa memanfaatkannya untuk menciptakan pemasukan baru. Caranya dengan memulai bisnis.

Yang terpenting, hindari tergiur mengambil dana investasi untuk kebutuhan di luar perencanaan awal dan jangan tergoda mengambil dana darurat yang Anda miliki. So, nyatanya Anda masih bisa memiliki tabungan investasi dan memiliki bisnis lain kok untuk meningkatkan keuangan, walaupun dengan gaji pas-pasan. Jangan takut untuk memulai sesuatu yang baru ya, apalagi untuk meningkatkan finansial.

You may also like...