Gemar Mengoleksi, Tapi Enggan Disebut ‘Kolektor’

Tertumpuk buku-buku seni kontemporer dan katalog lelang lukisan di atas meja di ruang tamu kediaman mantan petinggi Sinar Mas, Haryono Budiono. Tak hanya itu, Haryono juga mengoleksi sekitar dua ratus lukisan, namun hanya delapan puluh yang menggantung di rumahnya.

Haryono mulai menggemari lukisan dan mengoleksinya sejak akhir tahun 1990an. Saat itu, ia sedang melawat ke Eropa. Ia berkunjung ke museum untuk menikmati lukisan-lukisan demi memanjakan rasa estetiknya. Mulai dari situlah terbesit sebuah kesadaran akan kecintaannya pada karya seni kontemporer.

Aneh dan unik, dua kata yang mewakili kecintaannya terhadap karya seni. Lantas ia pun berpikir, seniman Indonesia tidak kalah dengan seniman luar. Menurutnya, Indonesia sangat kaya akan tradisi dan budaya yang bisa menjadi ide karya-karya seni.

Saat Haryono mulai mengoleksi banyak karya seni pada tahun 1997, pada saat yang bersamaan Balai Lelang Indonesia (Balindo) mulai mengemuka. Dalam sebuah lelang tersebut, ia langsung tertarik pada lukisan kontemporer.

Awalnya, ia membeli lukisan beraliran realis dan naturalis, lalu berkembang ke arah kontemporer. Meski sangat menyenangi lukisan berbau kontemporer, namun ia menjatuhkan pilihan pertama koleksinya pada lukisan old master seperti karya Lee Man Fong, Affandi, Basuki Abdullah, atau Soedjojono.  

Barulah pada tahun 2006, Haryono mulai mengoleksi lukisan kontemporer. Ia mengoleksi sejumlah lukisan karya Rudi Mantofani, Dedy Paw, dan Erica Hestu Wahyuni.

Meski mengoleksi ratusan lukisan, Haryono enggan disebut sebagai kolektor. Ia mengumpulkan lukisan untuk investasi. Haryono hanya membeli lukisan yang ia senangi dan jarang sekali menjual koleksi lukisannya. Haryono juga menyatakan, suatu keberuntungan jika ternyata nilai lukisan-lukisan yang dikoleksinya dibanderol dengan harga tinggi.

Karena sering berdiskusi dengan para seniman, kurator, dan kolektor lain, Haryono memiliki hubungan yang cukup baik dengan mereka. Tak jarang seniman yang memberikan lukisan khusus untuk koleksi Haryono. Ia mengaku, tidak memiliki seniman favorit.

Begitu gemarnya akan karya lukis, Haryono menjadi rutin mengikuti lelang lukisan di dalam dan luar negeri seperti diselenggarakan Sotheby’s atau Christie’s. Namun, ia membeli lukisan favoritnya dari balai lelang masih dalam harga yang wajar.

Selain karya seni kontemporer kinetic art berupa lukisan, di salah satu ruang pamer rumahnya, Haryono juga mengoleksi patung-patung di antaranya karya Djokopekik, Sunaryo, Dwi Laksono, dan Entang Wiharso. Tapi Haryono menghindari mengoleksi patung dan seni instalasi berukuran besar karena hanya memakan tempat di ruang pamernya. Tertarik mengoleksi karya-karya seni kontemporer atau karya seni lainnya seperti Haryono?  

You may also like...