Perempuan AS Merajut Sendiri Gaun Pengantinnya di Bus

Perempuan AS Merajut Sendiri Gaun Pengantinnya di Bis

BojonegoroToday – Seorang pengantin dari Seattle, Amerika Serikat membuat sendiri gaun pengantin rajut di dalam bus yang ia naiki setiap hari. Gadis itu bernama, Chi Krneta, yang sudah mampu membuat crochet semenjak kecil.

Ia mengaku di akun Reddit-nya yang dikutip oleh situs berita ABC News (24/9/2014) bahwa kebanyakan perempuan menghabiskan ribuan dolar untuk gaun pengantin.

Ia sendiri hanya perlu merogoh kocek sebesar 30 dolar AS atau sekitar Rp 330.000 untuk bahan-bahan rajutannya termasuk lining (alas/ furing) gaun tersebut. Harga tersebut bisa ditekan dengan lebih terjangkau karena ia merajutnya sendiri selama 5 bulan.

Krneta mengaku pada ABC News bahwa ia banyak melakukan aktivitas merajut crochet dan membuat perlengkapan lain seperti topi, syal, dan gaun yang lebih pendek.

“ Saya tahu. Saya ingin mendesain dan membuat gaun pengantin saya sendiri (saya juga menjahit). Saya menemukan bahwa merajut bisa menjadi cara yang paling efisien untuk mewujudkannya.

Ia mengatakan bahwa semua tamu yang ia undang dalam even bahagianya di pernikahan sangat menyukai gaun pengantin yang ia buat. Hari pernikahan yang berlangsung tanggal 26 Juli lalu membuat banyak orang berdecak kagum dengan keindahan, kreativitas, dan ketelitian pembuatan gaun pengantin dengan motif nanas dengan metode crochet tersebut.

Sayangnya satu-satunya orang yang Krneta harapkan untuk melihat hasil karya tersebut malah tidak menghadiri pernikahannya. Sang nenek yang berjasa mengajarinya merajut selama ini tidak bisa melihatnya memakai gaun pengantin indah tersebut karena telah meninggal beberapa tahun lalu.

Krneta yang juga seorang arsitek memang mampu menciptakan rancangan gaun pengantin termasuk gaun untuk teman pendamping dengan kemampuannya di bidang arsitek. Ia mengaku bahwa ia memperlakukan proyek gaun pengantinnya seperti menangani proyek arsitektural yang ia kerjakan selama ini

“Saya memperlakukan pernikahan saya seperti proyek arsitektur.,” katanya. “Saya memikirkan tentang berbagai cara bukan hanya menjadikan karya itu indah tetapi juga bermakna, praktis, terjangkau, dan berkelanjutan.” (pv)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *