Warga Sierra Leone sudah Boleh Keluar Rumah

Warga Sierra Leone sudah Boleh Keluar Rumah

Foto: Dominique Faget/AFP

BojonegoroToday – Jutaan orang di Sierra Leone baru diizinkan keluar dari rumah mereka pada hari Senin (22/9) setelah diberlakukannya kebijakan untuk karantina di seluruh negeri tersebut selama tiga hari, yakni di masa-masa pergolakan wabah ebola di negara tersebut meluas. Karena hingga kini masih banyak puluhan mayat dan kasus baru infeksi Ebola ditemukan di negara tersebut.

Kebijakan yang berlaku tiga hari tersebut hanya membolehkan petugas penting seperti petugas medis dan relawan kesehatan untuk beredar dari rumah ke rumah untuk membagikan sabun dan saran kesehatan terkait upaya mencegah penularan.

Bukan hanya Sierra Leone yang menetapkan pengurungan tersebut, negara Afrika barat juga melakukan kebijakan tersebut untuk membatasi gerak enam juta penduduknya dan hanya berdiam di dalam rumah mereka selama dua hari. Tujuannya untuk membendung wabah Ebola mematikan yang telah menewaskan lebih dari 2.600 jiwa di Afrika Selatan, di Liberia serta Guinea tahun ini.

Pemerintah Liberia yang kerepotan dalam menangani epidemi nasional tersebut juga mengumumkan pada Minggu (21/9) bahwa pihaknya mendapat bantuan dari tentara AS. Tentara AS membantu dalam upaya melawan ebola yang dilakukan salah satunya dengan menambah jumlah tempat tidur pasien ebola hingga empat kali lipat, yakni 1000 tempat tidur pasien di Monrovia.

Epidemi Ebola dapat membuat banyak korban berjatuhan dalam tempo beberapa hari. Korban akan merasakan nyeri otot yang parah, muntah-muntah, diare dan sebagian besar mengalami pendarahan dalam dan pendarahan luar tak bisa dihentikan.

Karena wabah ini, perekenomian negara-negara tersebut mengalami penurunan drastis. Banyak orang yang terkurung dan tidak bisa keluar dari negara tersebut, selain itu akses dari luar ke dalam negeri juga banyak terhenti karena maskapai penerbangan berhenti menghubungkan jalur lintas negara dengan negara-negara wabah Ebola.

Wakil kepala petugas medis Sierra Leone Sarian Kamara , sebagaimana dilansir AFP, Senin (22/9) mengatakan terkait karantina tersebut, “kami … bisa memastikan kasus baru , yang belum ditemukan, yang nantinya akan sangat meningkatkan penularan.”

“Sampai pagi ini, kami memiliki 22 kasus baru. Tanggapan dari (tim) medis telah membaik dan tim pemakaman mampu mengubur antara 60 sampai 70 mayat selama dua hari terakhir.”

Kebijakan pengurungan di rumah ini juga telah menuai kritik dengan beberapa menyebutnya sebagai aksi publisitas belaka dan lain pihak mengeluh tentang rendahnya kualitas saran yang diberikan oleh para relawan untuk membendung penularan penyakit ini.(tri/AFP)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *