Handicraft Indonesia dari Tasikmalaya: Payung Geulis

handicraft indonesia payung geulisSiapa yang tidak kenal Tasikmalaya? Baik kota ataupun kabupatennya terkenal dengan aneka kerajinan khas yang sangat menarik. Seperti kerajinan bambu, bordir, batik, Mendong Plait, kerajinan kayu, dll. Selain kerajinan tersebut, ada handicraft Indonesia yang menjadi ikon Tasikmalaya, yaitu Payung Geulis.

Payung Geulis, Alat Berteduh Para Nona Belanda
Payung Geulis merupakan ikon Kota Tasikmalaya yang mulai diproduksi sejak masa penjajahan Belanda. Secara harfiah payung berarti alat pelindung dari hujan dan panas, sedangkan Geulis (bahasa Sunda) artinya elok atau molek. Sehingga, Payung Geulis memiliki arti payung cantik yang bernilai estetis.

Motifnya yang cantik, membuat payung yang terbuat dari bahan kertas dan kain ini ramai dipakai oleh nona-nona Belanda sekitar tahun 1926. Payung ini dibuat dari batang kayu dan bambu halus sebagai rangkanya. Penutup atau bagian atas payung terbuat dari kertas dan kain yang dihias oleh pengrajin. Setelah dirangkai dan dipasangi kain/ kertas, ujung payung dirapikan dengan menggunakan kanji.

Agar lebih menarik, rangka bagian dalam diberi benang warna-warni. Selain itu, Payung Geulis juga memiliki dua motif, di antaranya:
1. Motif hias geometris berbentuk bangunan yang lebih menonjol seperti garis lurus, lengkung, dan patah-patah.
2. Motif hias non geometris yang diambil dari bentuk alam seperti manusia, hewan, dan tanaman.

Proses pembuatan handicraft Indonesia Payung Geulis ini pun bergantung pada sinar matahari. Setelah diberi kanji, payung dijemur hingga keras. Lalu, payung diberi warna dan dilukis dengan corak bunga. Semua proses pembuatan Payung Geulis dibuat secara manual atau handmade, terkecuali gagang payung dibuat menggunakan mesin.

Para pengrajin Payung Geulis umumnya digeluti para orang tua yang keahliannya didapat secara turun temurun. Pengrajin payung ini mayoritas berdomisili di Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya. Karena handmade dan dibutuhkan ketelitian dalam proses pembuatannya, membuat payung ini diproduksi berdasarkan pesanan. Hingga saat ini, pesanan terbanyak datang dari Bali.

Perkembangan Payung Geulis, Dulu dan Kini
Payung Geulis yang diproduksi sejak jaman penjajahan Belanda, mengalami masa kejayaan pada era 1955 sampai 1968. Namun setelah pemerintah menganut politik ekonomi terbuka tahun 1968, masa kejayaan Payung Geulis berangsur-angsur surut. Hal tersebut mengakibatkan terbukanya impor payung, sehingga payung buatan pabrikan luar negeri pun bebas masuk ke Indonesia. Hal ini berdampak buruk pada perkembangan kerajinan Payung Geulis di Tasikmalaya.

Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kepedulian pemerintah terhadap kerajinan daerah, usaha kerajinan ini mulai berkembang kembali sejak tahun 1980-an. Untuk mempertahankan kerajinan ini, pemerintah Kota Tasikmalaya pun melakukan pembinaan berupa pelatihan dan bantuan peralatan agar perajin dapat meningkatkan kualitasnya.

Agar produk handicraft Indonesia Payung Geulis ini lebih tersohor, pemerintah daerah pun membuat peraturan untuk mewajibkan penggunaan Payung Geulis sebagai hiasan depan pintu di setiap hotel, perkantoran, dan rumah makan yang berada di wilayah Tasikmalaya.

You may also like...