Masih Banyak yang Salah Mengartikan Hotspot dalam Kejadian Kebakaran Hutan/Lahan

BojonegoroToday -Jakarta – Kerancuan dalam mendefinisikan titik api (hotspot) masih kerap terjadi di masyarakat. Apalagi terkait berita tentang kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Misalnya kalimat : “Satelit NOAA mendeteksi 178 titik api di Provinsi Riau”. Titik api dalam kalimat tersebut sering disalahtafsirkan sebagai jumlah total lokasi kebakaran yang ada di suatu wilayah.

Menurut Lapan dikutip dari situs resminya di lapan.go.id pada Selasa(30/9) lalu, arti kata titik api yang dideteksi dari Satelit NOAA dalam kalimat tersebut adalah titik panas atau hotspot.

Hotspot, menurut Lapan, didefinisikan sebagai suatu area yang memiliki suhu relatif lebih tinggi daripada daerah sekitarnya yang dapat deteksi oleh satelit. Area tersebut direpresentasikan dalam suatu titik dengan koordinat tertentu.

Biasanya jenis satelit mampu digunakan untuk mendeteksi hotspot atau titik panas adalah Satelit NOAA dan Terra/Aqua MODIS.

Penjelasannya memang bisa dibenarkan bila jumlah hotspot/titik panas yang banyak dan cenderung berkumpul di suatu wilayah mengindikasikan terjadinya fenomena kebakaran lahan atau hutan di suatu daerah tertentu.

Namun jika ditilik dari sisi ilmiah terdapat kesalahan penafsiran yang masih perlu untuk diperhatikan baik oleh pihak pemerintah pusat, pemerintah daerah, atau masyarakat umum sendiri.

Kesalahan-kesalahan penafsiran dalam mengartikan titik panas di antaranya adalah:

1.  Koordinat hotspot merupakan lokasi kejadian kebakaran hutan atau lahan

Jika melihat hasil dari citra satelit tidak mesti koordinat yang ditunjukkan adalah lokasi kebakaran yang sesungguhnya. Pasalnya error data dari horizontal hotspot bisa menyimpang sekitar 1 hingga 2 km dari koordinat ditunjukkan, demikian menurut hasil penelitian Lapan. Sehingga untuk melihat di mana posisi kebakaran yang akurat, masih perlu dilihat dalam rentang radius hingga 1- 2km  tersebut.

Resolusi spasial (ukuran piksel dari citra) untuk Satelit NOAA atau Terra/Aqua MODIS adalah 1 km x 1 km di bagian tengah citra yang dihasilkannya. Sementara di wilayah pinggiran, resolusi spasialnya sekitar 2km x 2 km. Dari sini kesalahan setidaknya maksimal dalam radius 2 km. Koordinat titik panas/hotspot adalah titik tengah dari piksel citra satelit NOAA atau Terra/Aqua MODIS.

Apabila menentukan lokasi sumber kebakaran maka bisa dilihat dari area piksel satelit yang diidentifikasi area hotspot tersebut.

2.  Jumlah hotspot adalah jumlah kebakaran lahan/hutan

Tidak selalu jumlah hotspot merupakan jumlah kejadian kebakaran di lapangan. Bahkan dua kejadian kebakaran dalam area radius 500 m bisa saja hanya terdeteksi sebagai satu hotspot. Sebaliknya kejadian kebakaran lahan/hutan yang sangat besar pun bisa juga hanya dideteksi lebih dari 2 hotspot (lihat penjelasan Gambar 1).

Masih Banyak yang Salah Mengartikan Hotspot dalam Kejadian Kebakaran Hutan/Lahan

Gambar 1. Perbandingan kejadian kebakaran di lapangan dan deteksi hotspot dengan satelit

Bahkan kasus kebakaran kecil dengan deteksi panasnya yang sangat tinggi bisa membuat hasil satelit menunjukkan 2 hotspot.

 

Masih Banyak yang Salah Mengartikan Hotspot dalam Kejadian Kebakaran Hutan/Lahan

Gambar 2. Banyak hotspot yang dideteksi dari kebakaran kilang minyak di Cilacap

Gambar di atas adalah contoh kebakaran di kilang minyak Cilacap yang menunjukkan hasil titi panas yang dideteksi oleh satelit bahkan mencapai 6 hotspot.

3.  Jumlah hotspot dapat dikonversi menjadi luas kebakaran.

Berdasarkan poin no.2 itulah maka hotspot tidak dapat dikonversi menjadi luas kebakaran lahan/hutan.  Apabila ada yang menyimpulkan bahwa hotspot dianggap menunjukkan luas area yang terbakar maka kesalahan tersebut sangat fatal.

Mengutip dari Lapan, bahwa menghitung luas kebakaran lahan/hutan bisa dilakukan dengan memanfaatkan data satelit berresolusi tinggi seperti Landsat atau SPOT.

Masih Banyak yang Salah Mengartikan Hotspot dalam Kejadian Kebakaran Hutan/Lahan

Gambar 3. Daerah kebakaran lahan yang dipantau dari data Landsat 8 tanggal 2 April 2014 kombinasi kanal 754 sebagai citra komposit RGB

Gambar 3 merupakan contoh pemantauan daerah kebakaran lahan/hutan dengan data Landsat-8 tanggal 2 April 2014.

Adanya penejelasan tersebut tentunya akan membuat masyarakat lebih perhatian dalam menafsirkan kata titik panas atau hotspot dalam sebuah kasus kebakaran hutan atau kebakaran lahan. (es)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *