Wisata Bahari Indonesia Belum Tergarap Optimal

potensi wisata raja ampat

Raja Ampat, salah satu potensi wisata bahari nasional

BojonegoroToday – Kongres Maritim Indonesia telah usai digelar di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pada hari Rabu (24/9). Acara tersebut menghadirkan Prof. Dr. Ir. Danang Parikesit, M,.Sc., Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konsevasi Energi dari Kementerian ESDM, Agung Prasetyo, ST., M.T., Direktur Industri Pariwisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Drs. Agus Priyono, MM., serta Anggota Dewan Kelautan Indonesia, Dr. Ir. Son Damar, M.Sc.

Dari sektor pariwisata, Direktur industri pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Drs. Agus Priyono, MM., mengungkapkan bahwa Indonesia yang merupakan negara maritim ini perlu menggarap wisata bahari yang ada dengan lebih serius. Ia menilai bahwa selama ini tujuan wisata di Indonesia khususnya wisata bahari masih belum maksimal.

Hal tersebut sangat disayangkan karena tercatat sekitar 5000 kapal wisata yang berlabuh ke Indonesia. Setidaknya terdapat 18 pelabuhan yang menjadi pintu masuk kapal-kapal wisata ini.

Para wisatawan banyak berkunjung ke tempat-tempat wisata yang terkenal indah di Indonesia. Mereka kerap melancong ke berbagai destinasi wisata bahari seperti Bunaken, Wakatobi, Pantai Kuta, Kepulauan Seribu, wisata menjangan, Pulau Komodo, dan Raja Ampat.

Meski banyak destinasi dari sektor pariwisata tidak lantas membuat wisatawan puas. Salah satu kekurangan dari wisata bahari di Indonesia yang kerap dikeluhkan adalah masalah biaya transportasi yang terbilang mahal.

Pembahasan lainnya yang ada dalam kongres adalah seputar kebijakan ekonomi berbasis maritim yang ada di Indonesia. Mulai dari minimnya efisiensi pelayaran di pelabuhan-pelabuhan Indonesia, biaya logistik yang sangat tinggi, hingga posisi Indonesia dalam peta perdagangan maritim dunia.

Menurut salah satu pembicara yakni anggota Dewan Kelautan Indonesia, Dr. Ir. Son Damar, M.Sc., sekitar 40 persen perdagangan dunia kemungkinan besar berlayar melalui kawasan perairan Indonesia.

Ia juga menyatakan bahwa terdapat 10 lokasi strategis lalu lintas perdagangan dunia dan empat di antaranya berlokasi di Indonesia. Empat lokasi tersebut tersebar di sejumlah titik mulai dari Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar.

Damar berpendapat bahwa kebijakan untuk pembangunan negara maritim bisa ditingkatkan. Salah satunya adalah dengan adanya dorongan dari pihak pemerintah untuk membuat kegiatan aktivitas bongkar muat di pelabuhan menjadi lebih aktif. Selain itu pemerintah juga perlu mendorong jumlah kepemilikan kapal kepada masyarakat setempat. (es)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *